Purnama akhir Tahun 2017

2 Desember 2017

Lara ini bangkit dari kuburannya

Menjelma menjadi rindu yang kehilangan tuannya.

Rindu dalam ragu yang meluap berujung ratap.

Semesta seakan ikut merasakan

Segala yang ku lakukan berujung pada kenangan

Memutar, memperjelas satu persatu kenangan yg telah buram.

Doa doa, pujian pujian pun aku panjatkan, bak mantra penawar rasa.

Tapi pikiran telah dikalahkan oleh hati.

Sehingga otakpun memerintahkan mata untuk meneteskan air

Butiran butirannya pun turun

Membasuh luka yang mengaga

Benarlah kata orang kalau

Rindu…..

“Itu curang, selalu bertambah tanpa tau caranya berkurang”

Iklan

Sepenggal Rindu

 

Entah mencari apa? 
Entah mendapatkan apa? 
Aku hanya rindu disana
Aku hanya rindu bau tanah
Aku bukannya orang tak beragama 
Yang mencari damai di rimba 
Magnet bumi begitu kuat menarik hatiku 
Untuk sejenak menikmati sepenggal surga 
Raga begitu haus akan dingin dan sunyi di sana.
Bahagia tak harus riuh ramai gemerlap 
Dari kekuranganlah kita dapat mensyukuri yang lebih 
Aku jatuh hati pada tanah surga, 
rindu sekali menjejakkan kaki kembali
Disini ada sukma yang sedang sendu 
Tampak lesu, muram sedang merindu
Hingar bingar gemerlap kota seakan sirna 
jiwanya sedang berkelana entah kemana
Jakarta dengan segala kemegahannya 
Tidak pernah membuatnya tetap tinggal 
Mata ini selalu haus akan Hijaunya pegunungan birunya laut

Dinginnya hembusan angin yang menembus kulit 
Hangatnya mentari yang membuat kulit gelap
Warna Warni ikan di dasar laut 
Alam memiliki pesona tersendiri 
Untuk mengoda kita untuk tinggal,
atau kembali untuk melepas rindu..

Ngetrip Bukan Hura Hura

Aku suka jalan jalan trip bukan untuk HURA HURA….

Memang apa yang dapat di foya-foyakan, memang apa yang dapat di hambur-hamburkan. UANG? UANG bukanlah dewa kawan, bulan juga Tuhan, masih bisa di cari. Semua sudah di atur semua sudah ada jalannya. Semua punya cara membahagiakan diri sendiri semua punya skala prioritas masing masing.

Coba dipikirkan lagi apa yang dapat di hambur-hamburkan, ke gunung bukanlah cara yang menarik menghambur2kan uang, kelaut bukanlah cara yang asyik menghambur2kan uang. Kedua tempat tersebut sama sama beresiko “KEMATIAN”. Saat ke gunung salah melangkah kita akan jatuh ke dalam jurang, menyelam salah memperhitungkan waktu akan kehabisan oksigen.

Gunung dan laut tidak pernah menerima kesombongan dan keangkuhan. Alam menerima kita APA ADANYA, tidak ada batasan, tidak ada status sosial, ya alam akan memerima kita apa adanya, dan memberikan apapun ke kepada penikmatnya tanpa pamrih.

Persis seperti Allah SWT yang tidak pernah membedakan umatnya kecuali amal perbuatannya. Akan menerima keluh kesah bahkan Tobat (kesalahan) manusia.

Itulah menurutku alam merupakan tempat yang sempurna untuk berbagi apapun. Alam tidak akan protes jika kau bahagia, dia tidak akan meninggalkanmu di kala sedih justru akan menghiburmu dengan keindahannya. Sekali lagi persi seperti Allah lakukan akan menerima umatnya apapun keadaannya. Dan alam bukanlah Allah kawan tapi lukisan kasih sayang Allah.

Dan aku memilih mendekatkan diri dengan alam semesta ini untuk mensyukuri dan bertaqwa padaNya. Dengan mengenal alam semesta aku dapat merasakan betapa besar kuasaNya. Tak mengapa jika berseberangan Kawan, toh di dunia ini setiap hal selalu sepasang layaknya dua sisi mata uang, seperti siang dan
malam yang tak akan pernah sejalan.